Karena terkadang lidah terlalu kelu tuk sekedar lisankan, biarlah rangkaian kata yang membuat memori tetap menyemburat

Minggu, 01 Mei 2016

Puisi- Bundar Dari langit



Bundar Dari Langit
 
Source: tarianhujan.com

Tuhan..
Ku ingin Kau turunkan hujan lagi
Hujan itu baunya khas
Tak dapat ku sebut apa nama baunya
“Baunya basah”?
Atau “Bau tanah sehabis mandi”?
Bagaimana harus ku sebutnya, Rabbi?
Saat hujan-Mu berlomba jatuh, manusia kebingungan.. jalan mendadak lengang..
Ku tak mengerti, apa karena manusia sibuk ambil sudut yang pas tuk menatap jejatuhan basah yang sedang berdzikir pada-Mu, ya?
Atau karena mereka terkesiap ingin menengadah ke langit (juga), melangitkan doa pada-Mu (seperti halnya rumput, ilalang, kembang yang girang dengan bahasa tumbuhan)

Tuhan..
Bila Kau jatuhkan hujan,
Ku ingin itu bukanlah saat ku sedang futur, sehingga:
walau penglihatan terbuka tetap tak dapat lihat Keagungan-Mu
walau kulit dikeroyok basah tetap tak untai syukur ke haribaan-Mu
walau ikut andil lengangkan jalan, tak ikut rajut dzikir pada-Mu

Tuhan..
Bangunkan aku saat hujan-Mu datang
Bukan “bangun” dalam harfiah, karena mungkin saat itu ku tlah terjaga
Tapi kumohon.. bangunkan hatiku dari mati surinya. Tidakkah ia lelah dari tidur panjangnya (?) Kuheran mengapa ia betah tidur. Tuntun bibirnya dari sekaratnya, obati lukanya yang di dalam (yang mungkin tak terlihat lebam di luar).
Agar satu hal.
Agar dapat kembali  cintai-Mu, yang tanpa pamrih selalu cintaiku.
Aku tanpa-Mu, apa?


Just found what I created last year
-Semoga hati kita lekas sembuh 


Ambinari Rachmi Putri
Tarakan, 12 Agustus 2015
12.30 p.m


Share:

0 komentar:

Posting Komentar

Popular Posts

Unordered List

Text Widget

Pages