Bundar Dari Langit
![]() |
| Source: tarianhujan.com |
Tuhan..
Ku ingin Kau turunkan hujan lagi
Hujan itu baunya khas
Tak dapat ku sebut apa nama baunya
“Baunya basah”?
Atau “Bau tanah sehabis mandi”?
Bagaimana harus ku sebutnya, Rabbi?
Saat hujan-Mu berlomba jatuh, manusia
kebingungan.. jalan mendadak lengang..
Ku tak mengerti, apa karena manusia sibuk
ambil sudut yang pas tuk menatap jejatuhan basah yang sedang berdzikir pada-Mu,
ya?
Atau karena mereka terkesiap ingin
menengadah ke langit (juga), melangitkan doa pada-Mu (seperti halnya rumput,
ilalang, kembang yang girang dengan bahasa tumbuhan)
Tuhan..
Bila Kau jatuhkan hujan,
Ku ingin itu bukanlah saat ku sedang futur,
sehingga:
walau penglihatan terbuka tetap tak dapat
lihat Keagungan-Mu
walau kulit dikeroyok basah tetap tak untai
syukur ke haribaan-Mu
walau ikut andil lengangkan jalan, tak ikut
rajut dzikir pada-Mu
Tuhan..
Bangunkan aku saat hujan-Mu datang
Bukan “bangun” dalam harfiah, karena
mungkin saat itu ku tlah terjaga
Tapi kumohon.. bangunkan hatiku dari mati
surinya. Tidakkah ia lelah dari tidur
panjangnya (?) Kuheran mengapa ia betah tidur. Tuntun bibirnya dari
sekaratnya, obati lukanya yang di dalam (yang mungkin tak terlihat lebam di
luar).
Agar satu hal.
Agar dapat kembali cintai-Mu, yang tanpa pamrih selalu cintaiku.
Aku tanpa-Mu, apa?
Just found what I created last year
-Semoga hati kita lekas sembuh
Ambinari Rachmi Putri
Tarakan, 12 Agustus 2015
12.30 p.m


0 komentar:
Posting Komentar