Manusia:
Sedikit benarnya, banyak alpanya
Manusia:
Benar sekali, merasa jemawa seterusnya
Manusia:
Bernanah-nanah tubuhnya tak terlihat, Luka setitik di ujung langit dikuak
Manusia manusia manusia:
Tak kan habis kata tuk lukis gelapnya
Namun aku manusia
Sayangnya aku manusia
Dan aku lah manusia
///
Kau tahu, terkadang aku ingin menjadi si pendiam. Tak banyak bicara, hanya lebih banyak tersenyum untuk menanggapi orang lain. Berargumentasi seperlunya, padat, namun tepat sasaran dan brilian. Bukan untuk apa-apa, hanya untuk meminimalisir kesalahan. Dengan menjadi si irit bicara saja kita belum tentu dapat menghitung berapa banyak orang yang terluka hatinya akibat satu-dua kata kita, bukan? Apalagi dengan menjadi banyak bicara?| "Ah ngapain, bodo lah, makanya jadi orang jangan tersinggungan, orang lain bicara, anggap slow aja, hidup bawa santai bos, jangan terlalu serius deh!"| Iya kita bisa bilang begitu ketika kita menganalogikan diri menjadi subjek pembicara, tapi coba bayangkan bila kitalah pendengarnya. Bayangkan bila si subjek pembicara lupa hati-hati berbicara dan tiba-tiba srak nyuss, tanpa sengaja ada satu kata yang menusuk dan seketika bikin kita marah atau melow? Masih bisa slow?
Duh
Hhe
Ntahlah
Kita dengan segala keterbatasan yang ada, hanyalah manusia biasa, inginnya diperlakukan dengan baik dan sebaiknya tak lupa berlaku baik lebih dahulu. People's attitude is depend on your attitude in front of them.
Kita manusia biasa, sedikit benarnya, banyak gelapnya, tak ada sempurnanya, hanya bisa meminimalisir kesalahan.
Iya kan?
Yang bukan orang bijak, jauh dari banyak betulnya, hanya self reminder,
Ambinari Rachmi Putri
Cirebon, 4 syawal 1437H
Waktu isya

0 komentar:
Posting Komentar