KEJUJURAN
Izinkan aku mengenalmu, untuk kesekian kalinya. Aku ingin mendengar nada bicara dan suaramu saat mengenalkan diri: siapa namamu, dari mana kau berasal, apa yang kau suka dan yang tidak. Aku ingin merasakan kembali indahnya dunia ketika waktu seketika berhenti, dan semesta seolah menghentikan semua aktivitas yang ditakdirkan pada mereka hanya untuk mendengarkanmu bicara—aku, tak terkecuali.
Bagaimana sebenarnya kejujuran bekerja
dalam cinta? Ketika kita memutuskan untuk saling menjauh justru ketika
raga ini mendamba kedekatan. Ketika rindu, seberapa pun pekatnya tetap
tak tersampaikan. Begitulah, sejak pertama aku mengenalmu, aku percaya
bahwa kejujuran tak pernah benar-benar berlaku dalam cinta. Kadang kita
menjadi hamba bagi sebuah kepura-puraan—menipu diri dengan rekaan-rekaan
yang kita ciptakan sendiri.
Tak berdarah
bukan berarti tiada luka, sebagaimana menangis tak selamanya harus
berair mata. Bodohnya, kita bersepakat untuk merasakannya berhari-hari.
Menikmati luka yang kita cipta tanpa anastesi, menikmati perih tanpa
merintih. Dan dalam keterdiaman itu, hanya ada satu doa: suatu saat
nanti luka ini akan sembuh dengan sendirinya.
Barangkali, kelak ketika tiba waktu untuk
jujur, kita akan mengaku: kita sama-sama mendamba keteduhan itu—rasa
yang tak pernah kita sepakati definisinya. Lalu jarak akan menyusut
dengan sendirinya. Seperti lekukan batu yang tercipta oleh tetes demi
tetes air, kadang yang kita butuhkan cuma optimisme dan kesabaran.
Apakah kau percaya hal ini? Bahwa cerita
tentang bahagia memang selalu tampak sederhana di permukaan. Tapi di
balik itu semua, sesuatu yang rumit terjadi: sebuah kerelaan, upaya
menenggelamkan ego, atau ikhtiar untuk menerima segalanya apa adanya
saja.
Jadi izinkan aku mengenalmu, untuk
kesekian kalinya. Aku ingin merasakan kembali bagaimana rasanya ketika
pertama kali jatuh cinta kepadamu.
Aku ingin mengenang dan mengingat-ingat
momen itu, sampai aku lupa bahwa pada kenyataanya, kita tengah menjalani
sebuah cerita tentang dua manusia lugu yang saling menunggu.
dikutip dari Ja(t)uh
![]() | |||||||
| Buku yang dibeli di Tarakan (2015) tiba di Jakarta, yeay! |
Ditulis bukan dalam rangka baper,
hanya berniat menunjukkan salah satu karya Bang Azhar dalam buku ja(t)uh :p -percaya kan?
Sekaligus euforia buku-buku yang jadi cemilan selama PKL ini sudah tiba di kost
Terima kasih dik nofri yang sudah kirimin ^^
Ambinari Rachmi Putri
Bintaro, H-1 masuk pasca libur lebaran


0 komentar:
Posting Komentar