Karena terkadang lidah terlalu kelu tuk sekedar lisankan, biarlah rangkaian kata yang membuat memori tetap menyemburat

Minggu, 07 Agustus 2016

Gerbang Sendu

Ku menyebutnya gerbang sendu

08.00 WIB
Langit biru, cerah, biasa, namun diwarnai harmoni kali ini, kau tau mengapa? karena sangu ayam bakarnya ku makan bersama mama.

10.00 WIB
Terhelak, tawa, berbicara, empat mata, membicarakan apa saja...apa saja... hmm.. mungkin ada kau di dalamnya(?), momentum langka (sejak alamatku bernama Bintaro).

10.30 WIB
Bisikan Pemilik lebih keras, hentikan pembicaraan 2 pasang mata (aku dan mama). Bisik-Nya berbunyi: "Mari berbincang dengan-Ku", dan kami pun menyeru: "baik.. kami menghadap.."

12.55 WIB
Ku antar mama ke terminal 1 A, ruang tunggu 9 tepatnya. Ya, ruang tunggu kami berbeda, ruang tunggu ku bernomor '1'. Wajar, pun tujuan kami berbeda. Mama Kota Pempek sedangkan ku Kota Tua.

sejak pukul itu pun kami terpisah 

13.05 WIB
 *melihat telepon genggam*
3 Panggilan Tak Terjawab
"Mbak... suasana bandara buat mama ingat Yangkung, semoga Yangkung tenang di sisi-Nya ya".
"Mama sudah naik pesawat"

*mengetik balasan*
"Aamiin ma.. kita hanya bisa berdoa...."
"Hati-hati ma... maaf tadi ndak terdengar teleponnya, mbak juga sudah naik pesawat".

13.20 WIB
*berkontemplasi*
Dunia ini berkelap-kelip, indah, namun karena kerlap-kerlipnya itulah kita sering lupa 'ke-sementaraannya'. Aku akan kembali, pun juga kau.... Kapan? ntahlah... Dalam keadaan apa? semoga dalam keadaan slalu siap menghadap. aamiin.

Pesawatku kini bersiap untuk mengudara, Selamat tinggal gerbang sendu.
Gerbang sendu itu bernama Juanda



Kalau dari atas semuanya terlihat seperti mainan, seperti kapal-kapalan, mobil-mobilan, atau rumah-rumahan. Tapi bukankah kita memang boneka dan moderatornya ialah Yang Maha Pengasih ?


Share:

0 komentar:

Posting Komentar

Popular Posts

Unordered List

Text Widget

Pages