Setelah 5 hari silaturahim ke keluarga ayah di Cirebon, saya
memilih menghabiskan 4 hari setelahnya di Malang, sekadar ingin tahu bagaimana
kota sejuk ini. Insya Allah, annisa nur fadhillah (teman saya SMP) bersedia
saya tumpangi kostnya. What an unpredictable planning!
“Keluarlah dari zona
nyamanmu, maka kamu akan temukan hikmah dari cerita yang kamu lalui. Dari tiap
cerita pasti ada hikmah yang dapat dipetik”.
Kalimat
itu benar, pipi saya merasa tertampar pagi ini. Bukan karena gusar melihat
sesuatu, namun karena meleleh melihat
bapak di samping sedang muroja’ah (mengulang)
hafalan al-quran nya. Lantas diri ini mematung dan menciptakan monolog dalam
hati,
Apakah benar yang saya lihat ini?
Bagaimana bisa semudah itu ayat-ayat suci terkumpul dalam
dada seseorang?
Mengapa begitu
mudahnya?
Bagaimana bisa, seorang bapak berambut putih yang harus
menjadi bukti bahwa firman dalam surat Al-Qamar itu benar?
Dan sungguh, telah Kami mudahkan Al-Quran untuk pelajaran[30],
maka adakah orang yang mau mengambil pelajaran? - See more at:
http://www.tafsir.web.id/2013/04/tafsir-al-qamar-ayat-1-22.html#sthash.7wuFKtc0.dpuf
Dan sungguh, telah Kami mudahkan Al-Quran untuk pelajaran[30],
maka adakah orang yang mau mengambil pelajaran? - See more at:
http://www.tafsir.web.id/2013/04/tafsir-al-qamar-ayat-1-22.html#sthash.7wuFKtc0.dpuf
"And We have certainly made the Qur'an easy for remembrance, so is there any who will remember?"
ayat ini diulang sebanyak 4 kali dalam surat Al-Qamar, yaitu pada ayat 17, 22, 32 & 40
Mengapa bukan anak kecil, seperti yang biasa saya lihat di
Bintaro? Sehingga saya masih bisa berkilah, "Wajar, mudah hafal, kan masih kecil... ingatannya masih tajam".
Lantas apa kabar diri ini?Apa kabar iman?
Apa kabar jiwa yang bahkan untuk tilawah saja sering ketiduran? -Kelelahan dengan tetek-bengek dunia mahasiswi, alibinya
Bagaimana mungkin ayat-ayat suci mau terkumpul dalam hatinya yang tandus?
Ya Habibi...
Allahummarhamna bil quran....
Ya Allah, kasihilah hamba dengan Al-Quran...
Ambinari Rachmi Putri
di Kereta Majapahit,
Menuju Malang


0 komentar:
Posting Komentar