Karena terkadang lidah terlalu kelu tuk sekedar lisankan, biarlah rangkaian kata yang membuat memori tetap menyemburat

Minggu, 24 Maret 2019

Ada Tarbiyah Disana..

Ternyata jenis-jenis orang itu berbeda ya,
Latar belakang pengasuhan keluarga, pendidikan, lingkungan pergaulan, tentu akan menempa masing-masing orang menjadi orang yang berbeda.

Konyolnya, saya baru menyadari dan berusaha menerima kenyataan itu: beberapa tahun lalu. Di usia 20 tahun-an awal.


Dulu, saya beranggapan bahwa jenis orang itu hanya 2: Kalau tidak seperti mama, ya seperti papa. Setelah PKL (2014-2015), jenis kepribadian orang pun bertambah jadi 4: Kalau tidak seperti mama, papa, kak Masan, ya kak Rahman. Setelah kembali ke kampus (2015), kosakata 'jenis-jenis' orang pun bertambah sebanding dengan meningkatnya interaksi dengan orang-orang baru. Benar ya, manusia memang benar-benar makhluk sosial, yang tak bisa lepas dari orang lain,  dan sungguh.... sebaik-baik manusia untuk diteladani adalah Baginda Rasulullah SAW :')

Ok, Back to the topic.

Jadi inti dari tulisan ini apa?
Inti dari tulisan ini adalah saya selalu yakin Allah selalu siapkan tarbiyah* terbaik untuk saya, dari tiap pertemuan dan interaksi saya dengan orang-orang yang berbeda. Meskipun tidak dapat dinampikkan bahwa di awal pertemuan, butuh banyak energi yang dikeluarkan untuk beradaptasi..

###
Yang pertama, sebut saja namanya adalah kurni, Ia adalah atasan saya dalam suatu organisasi. Ia pintar, teliti, terstruktur, dan lain-lain. Darinya saya belajar menjadi manusia yang lebih disiplin (wkwk). Kata-katanya yang paling membekas adalah: 
"Mungkin ambi lihat saya ngoyo banget belajar, ngoyo banget menjalankan amanah dalam organisasi ini. Ambi mau tahu kenapa? Karena waktu untuk belajar cuma 5 tahun ini. Tahun depan, di UPT bukan waktunya belajar lagi tapi untuk aplikasikan pelajaran. Lalu kenapa saya ngoyo banget menjalankan amanah di organisasi ini? karena amanah ini terlanjur jatuhnya pada saya. Bisa jadi kita punya ekspektasi-ekspektasi (target) lain dalam waktu dekat, namun bila telah dipercaya untuk mengemban amanah ini, harus maksimal
karena orang-orang berharap pada saya.
Bila orang lain yang mengemban amanah ini, tentu bisa. Namun ketika amanah ini telah memilihmu, percayalah bahwa dirimu bisa mengembannya. Bila kamu memilih untuk menggenggam amanah ini hingga sekarang, niatkan bahwa hal itu untuk mencegah mudhorot yang mungkin bisa saja datang, ketika bukan kamu yang mengembannya. (Yah siapa tahu... kita tidak pernah tahu kan, kenapa Tuhan mempercayakan ini pada kita, bukan pada orang lain?)

###
Yang kedua, namanya rianti. Ia perempuan, akhwat, enerjik, aktif organisasi, disiplin, pintar. Darinya saya belajar banyak hal, namun yang utama adalah belajar mempertahankan hijab (pembatas) ketika di keramaian, ketika menebar manfaat dalam organisasi. Bersamanya, saya seolah mendapat tarbiyah bahwa: 'niat muliamu untuk menebar manfaat jangan kau hilangkan hanya karena takut tak dapat mempertahankan hijab.. mintalah selalu pada Allah SWT untuk membantumu mempertahankannya'. 
Kata-katanya yang paling saya ingat adalah:
"Mohon doanya... Saling mendoakan dalam kebaikan ya...

 Masya Allah barakallahu fiik... semoga Allah slalu lindungimu, sholihah.
###
Yang ketiga, namanya 'adah. Ia perempuan, akhwat, tenang (selalu, sejauh saya mengenalnya). Darinya saya belajar untuk tetap tenang dalam berbagai kondisi hidup yang dinamis. Kata-katanya yang paling membekas adalah:  
"Kita ndak pernah tahu apa yang pernah dialami seseorang sampai Ia jadi seperti 'sekarang'. Kita ndak pernah tahu sulitnya dia, air matanya yang sudah jatuh, paniknya dia. Maka kalau ingin jadi seperti dia, haruslah juga mau alami pahit-pahit yang sudah dialaminya".
"Ssst.. sudah tabayyun? jangan sampai prasangka kita malah jatuh jadi su'udzon, kan ada riwayat yang mengatakan agar kita selalu mencari 1001 prasangka baik bila kita menemui sesuatu yang kurang pas (agar tak jatuh pada suudzon)".
###
Yang keempat, namanya wulandari. Ia perempuan, kristiani, idealis, rajin, anak tunggal namun mandiri, penebar keceriaan. Saya sayang banget sama dia!! Darinya saya belajar untuk selalu menjadi kuat (apapun yang harus dihadapi) dan menunjukkan bahwa kita baik-baik saja pada dunia (bagaimana keadaan diri kita? cukup kita saja yang tahu). Keep Smile!
###
Hmm... sejauh ini mungkin cukup mereka berempat dulu yang saya ceritakan. Bukan karena orang yang lainnya tak berarti, namun hanya karena ada pekerjaan kantor lainnya yang harus segera saya kerjakan.  

Lalu, intinya?

Duhai diri
Ke depannya akan makin banyak orang yang kau temui,dengan usia, latar belakang keluarga, suku, bahasa yang berbeda..
Bersiaplah!
Akan ada tarbiyah yang kian mendewasakanmu.
Ini bukan tentang menghakimi siapa yang baik, siapa yang buruk,
Namun ini tentang tempaan yang akan datang padamu (yang Insya Allah akan buatmu jadi lebih baik?)
Apalagi yang perlu diragukan?
Bukankah Allah pasti siapkan tarbiyah terbaik (apapun itu)?

###


- - يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱصْبِرُوا۟ وَصَابِرُوا۟ وَرَابِطُوا۟ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah, supaya kamu beruntung. (QS. Ali Imraan : 200)
 
 *) Tarbiyah= Kata Bahasa Arab yang artinya Pendidikan


Sejenak mengalihkan diri dari pekerjaan kantor,
 
 
Ambinari Rachmi Putri
Waktu dhuha, kantor

Palu, 16 Rajab 1440 H (24 Maret 2019)
Share:

0 komentar:

Posting Komentar

Popular Posts

Unordered List

Text Widget

Pages