Karena terkadang lidah terlalu kelu tuk sekedar lisankan, biarlah rangkaian kata yang membuat memori tetap menyemburat

Senin, 24 Oktober 2016

Perkara Langit

Lelaki, Senja, Bangku Taman, Menatap Langit:
“Kita ini hanya makhluk bumi, kita ini hanya wayang, Dia-lah Dalangnya. Dia perintahkanku memuliakanmu, baik akan kupenuhi. Dia perintahkanku tuk menjauh sementara, baik akan kupenuhi. Dia perintahkanku untuk banyak-banyak persiapkan diri: persiapkan ilmu dan segala tetek-bengeknya, baik akan kupenuhi. Bagaimana denganmu?

Wanita, Senja, Tepi Pantai, Menatap debur ombak:
“Kita ini hanya makhluk bumi, kita ini hanya wayang, Dia-lah Dalangnya. Dia perintahkanku tuk bantu engkau jaga pandangan, baik akan kupenuhi. Dia perintahkanku tuk menjauh dan menempa diri terlebih dahulu, baik akan kupenuhi. Dia perintahkanku tuk persiapkan diri jadi sebaik-baik Ibu kelak, baik akan kupenuhi. Apakah disana kau se-iya?

Maha Raja
“Perkara langit yang telah Ku gariskan adalah bukan tentang: mendapat persetujuan semua penduduk bumi atau bukan tentang mudahnya hal-hal itu masuk logikamu, namun sepenuhnya tentang ujian terhadap kepercayaanmu pada-Ku.
Terhadap perkara-perkara itu, apakah kalian akan menaatinya?
Akankah hanya pada-Ku saja, kalian bergantung dan percaya?”


Langit sehabis hujan, sore di Kampus

Ambinari Rachmi Putri
Bintaro, Kost Miftah
Waktu Dhuha
Share:

0 komentar:

Posting Komentar

Popular Posts

Unordered List

Text Widget

Pages