Bisikan angin agustus mengibas-ngibas sweatermu. sweater itu.. abu. sukses buatmu terlihat teduh. ini rabu, bukan sabtu apalagi malam minggu. lalu? apa artinya sebuah hari? bagiku bagimu semua hari sama. sama-sama karunia Tuhan. 'Karunia-Nya', tentu. karena kita masih bisa bertemu.
"Tuan apa yang ingin kau pesan?", sahutku dari meja yang sama seperti lalu yang lalu, masih di meja nomor 06 yang memanjakan mata kita, sudut yang mengizinkan kita memandang kerlap-kerlip lampu kota dari petak jendela.
Ah pertanyaan macam apa yang kulontarkan ini, dengan senyummu yang tersimpul tipis, aku sudah tahu: seperti lalu yang lalu, tentu secangkir kopi panas hitam pekat-lah yang ingin kau pesan. kopi panas untuk menghangatkan tubuhmu dari angin gigil, tentu angin yang sebabkanmu gigil--kau bilang dulu. Melihat senyum isyaratmu itu segera ku menyergapmu dengan pertanyaan yang mengelayut: "Tuan, mengapa tetap kopi panas hitam pekat? tak ingatkah, ini agustus.. angin yang berhembus kering, mengapa tak coba ice blend capuccino atau ice chocobrowny coffee?". Namun tak seperti yang kuharap, bukannya patah-dua patah kata yang kau ucap, kau kembali bungkamku dengan senyum simpul tipismu lagi. Aku pun menyerah dan tetap menuliskan pesanan itu di order list.
"Apa kabarmu?"
Magis. Kata pertamamu itu... begitu mujarab. Tentu saja seketika kalimat itu memecah ke-kikuk-an di antara kita yang telah lama terpisah ruang dan waktu, bagiku kalimat itu seolah memenuhi dinding-langit kedai kopi ujung jalan ini.
Namun aku memilih bungkam. Entahlah percakapan antar jiwa sepertinya lebih mudah dipahami sejak dulu. Bukankah ada hal-hal tertentu yang memiliki bahasanya sendiri: 'kelu'? lagipula bukankah jiwa adalah bagian terbersih dari manusia yang tak dapat didustai? Tidakkah kau se-iya, Tuan?
♫
Seperti yang biasa kau lakukan
Di tengah perbincangan kita
Di tengah perbincangan kita
Tiba-tiba kau terdiam
Sementara ku sibuk menerka
Apa yang ada dipikiranmu
Apa yang ada dipikiranmu
Sesungguhnya berbicara denganmu
Tentang segala hal yang bukan tentang kita
Mungkin tentang ikan paus di laut
Atau mungkin tentang bunga padi di sawah
Sungguh bicara denganmu
Tentang segala hal yang bukan tentang kita
Selalu bisa membuat semua lebih bersahaja
Mari Bercerita-Payung Teduh
♫
#CeritaFiktif
Ambinari Rachmi Putri
Tarakan, 26 Agustus 2015
Tarakan, 26 Agustus 2015


0 komentar:
Posting Komentar