Kau pernah mendengar cerita tentang orang yang dibuali perasaannya sendiri? Ada buncahan suka disana, yang nanti --secara teratur atau tiba-tiba-- akan disadari, bahwa itu semua telah menenggelamkan jiwa mereka dalam kesemuan. Merasakan apa-apa yang sebenarnya tak pernah ada. Atau ada, tapi tak sebesar itu. Lalu, atas nama rasa malu pada dirinya sendiri, perasaan yang tidak pernah tahu apa-apa itu dibunuh. Mati lalu dikubur. Tapi tahukah kamu, bahkan semua reaksi sederhana itu tak semudah saat dituliskan?
Jadi biarkana ku bicara langsung pada jiwamu, tanpa kau halang-halangi dengan ekspresi kecil atau celetukan ringanmu. Meski harus kuakui aku menyukainya: kata-kata lugu yang kau rangkai tanpa pretensi, kau ucap seolah tanpa motif, tapi memikat. Aku perlu tahu, tapi aku tak butuh mulutmu berkata-kata. Hanya ingin jiwamu yang bercerita.
Ya, aku perlu tahu.
Meski tak selamanya pengetahuan membuatku nyaman.
Aku hanya takut salah.
Apa kau juga ingin bicara pada jiwaku?
(c) Azhar Nurun Ala, berjudul 'Salah' dalam buku Ja(t)uh.
Ambinari Rachmi Putri
Tarakan, 6 Juni 2015

0 komentar:
Posting Komentar