Karena terkadang lidah terlalu kelu tuk sekedar lisankan, biarlah rangkaian kata yang membuat memori tetap menyemburat

Sabtu, 11 Januari 2014

Kupu-Kupu, Ilalang Tak Rindukah Kau Pada Anak Kecil Itu?


Anak kecil itu berlari. Tertawa. Lepas.
Di tengah ilalang. Diantara kupu yang terbang.
Sandalnya copot.
Lalu?
Bukankah rerumputan masih teman setianya?
Bak kasur, tak melukai.
Celana pendek kaos oblong.
Lalu?
Bukankah Ia masih anak kecil?
Pun tajamnya silau mentari tak tega sengat kulitnya.
Serasa virga selalu dipucuk langit. Teduh. Menaungi.
Berlari bebas dengan sebaya. Tak ada sekat, ba-bi-bu jarak.
Pun itu dengan adam.
Ya, Ia hawa.
Lalu?
Bukankah Ia masih kecil?
Tertawa.
Tak ada ruwet kurva problema di matanya.
Lagi, Tertawa.
Indahnya...

Ditulis oleh seorang anak kecil, yang rindu masa kecil. Yang tak lagi gemulai menarikan pensilnya menguntai puisi, seperti dulu saat kecil. (mungkin?).
Ah, masih pantaskah Ia sekarang dipanggil "Anak Kecil"?

-Terinspirasi Siti Ramadhana yang mengirim foto tahun 2009, kelas 8.1 SMP Negeri 19 Palembang.
Ah, rindunya :')

Tangerang Selatan, Jum'at 10 Januari 2014 (cepat sekali bukan, waktu berlalu?).
03:22.
Share:

0 komentar:

Posting Komentar

Popular Posts

Unordered List

Text Widget

Pages