Karena terkadang lidah terlalu kelu tuk sekedar lisankan, biarlah rangkaian kata yang membuat memori tetap menyemburat

Sabtu, 14 Agustus 2021

Definisi 'mengalir' rupanya tak selalu jelek

Sejujurnya aku benci bergerak,

Aku tak siap, 

Perubahan-perubahan yang akan terjadi akibat 'gerakan' itu, akankah aku siap? 


Membayangkannya sungguh tak dapat dibayangkan, karena memang sekeras apapun kita berusaha menerka, 'masa depan' adalah hal ghaib


Di satu sisi aku tak bisa 'mengalir saja', semuanya harus terukur, harus terencana dengan durasi-durasi tertentu. Selesaikan sesuai durasi yang telah direncanakan sejak awal, lalu beralih ke hal lainnya yang dapat dikerjakan. Itulah yang disebut dengan 'produktif'. Itulah yang disebut dengan 'mensyukuri umur yang telah diberikan-Nya'. 


Begitu prinsipku (dulu).


Siapa sangka kini aku bisa melunak, rupanya 'mengalir' tak selalu tentang 'menyia-nyiakan hidup', 'tak selalu tentang tidak produktif', tak selalu tentang 'menyia-nyiakan helaan nafas dari-Nya', karena pada satu waktu tertentu 'mengalir' justru merupakan wujud lain dari 'keberpasrahan', 'tawakkal', dan bentuk kecintaan yang sangat tinggi pada pilihan-pilihanNya. Sehingga dapatlah berubah arti 'mengalir' itu menjadi jelmaan praktik dari kalimat: 'Sesungguhnya ibadahku, hidupku, matiku, hanya untukMu Ya Allah. Aku ridha atas takdir-takdirMu. Aku ridha atas pilihan-pilihanMu karena tidaklah pilihanku yang paling baik, melainkan pilihanMu. Engkau mau bagaimanakan aku, terserah. Engkau mau alirkan aku kemanapun, terserah. Yang kuharap, semoga slalu dalam aliranMu saja' :') aamiin. 


Ambinari Rachmi Putri

Muharram 1443H (14/8/21) 

Waktu ashar, Masjid Bandara Palu, rehat shift siang

Di tengah gundah, kini ku temukan definisi lain dari mengalir, Duhai Kekasih

Share:

0 komentar:

Posting Komentar

Popular Posts

Unordered List

Text Widget

Pages