Assalamu'alaikum warahmatullah wabarakatuh, Sister!
Bagaimana harimu hari ini?
Meski sedih atau senang, ringan atau berat, semoga selalu ada ruang untuk bersyukur, ya. Khawatirnya, saking banyak memikirkan kesusahan dan kesedihan yang dirasa, kita jadi lupa untuk mensyukuri nikmat Allah yang lainnya. Bersyukur karena masih bisa menikmati makan mie goreng di tengah menipisnya dompet, misalnya. Fyi, aku lebih suka makan mie goreng daripada mie kuah hehe. Maafkan untuk teman-teman yang masuk tim kuah ya. Tak mengapa berbeda selera asal keyakinan kita terhadap Sang Pencipta sama. Laa ilaha illallah!
Aku ingin berbagi cerita, tentang kasih sayang Allah kepada hamba-Nya yang caranya tidak disangka-sangka. Bagaimana tidak, aku dibuat-Nya malu sekaligus sangat bersyukur kepada-Nya. Akhir bulan Semptember kemarin rasa-rasanya aku sedang berada di puncak kebosanan akan rutinitas beberapa bulan di rumah pasca sarjana. Niat melanjutkan studi di perguruan tinggi terbaik negeri namun persiapan diri belum sampai. Ingin bekerja sesuai passion dan memanfaatkan waktu luang namun beberapa instansi yang dituju tak kunjung memberi pemberitahuan. Berusaha untuk bangkit dengan mengikuti lagi beberapa kegiatan daring dari rumah, memulai lagi memanfaatkan kemampuan diri dalam mengolah kata juga informasi, membuat content untuk media social pribadi yang bertujuan untuk mengingatkan dan menyemangati diri. Namun tak berapa lama, rasa bosan, malas, kembali menghampiri. Pertanyaan orang-orang sekitar akan rencana ke depan seakan menambah beban. Jadilah situasi pandemi sekarang yang membuat tidak bisa melakukan dan mengharapkan apa-apa menjadi korban yang selalu dikambinghitamkan.
Entah kenapa hari itu rasanya sesak sekali. Ada banyak rasa, ada banyak cerita yang tak bisa diungkap kata. Berselancar di media sosial terlalu lama memang bisa membuat orang perlahan menuju gila ya, ternyata. Melihat feed Instagram teman-teman lama membuatku berpikir, kok sepertinya mereka punya pengetahuan, pengalaman, teman, sahabat dan lingkungan yang begitu mendukung, ya? Ada yang sudah melanjutkan studi dan diterima di perguruan tinggi terbaik negeri, ada yang sudah bekerja di tempat yang diingini. Sontak terpikir jauh ke dalam diri dan kemudian muncul pertanyaan-pertanyaan pertanda insecurity.
“Aku kenapa tidak seperti mereka?”
“Hidupku kenapa tidak semenarik mereka?”
“Kenapa aku begini-begini saja?”
Kemudian dijawab oleh diri, “Mungkin karena aku terlambat dalam mengambil pilihan. Oh bukan terlambat, tetapi lebih tepatnya takut. Iya, takut memgambil pilihan dan membuat keputusan, takut akan resiko ke depan hingga terjebak dalam ketidaktahuan. Hingga aku lupa bahwa waktuku tidak berputar hanya saat itu saja. Aku lupa bahwa ada masa depan yang harus aku perjuangkan agar aku bisa bertahan.”
Selesai dari pikiran menyalahkan diri sendiri, dilanjutkan dengan menyalahkan situasi. Huuuhh, seakan tiada habisnya. Aku lelah dengan semuanya. Aku ingin pergi, aku ingin keluar, aku ingin seperti mereka yang lainnya. Rasanya, semakin ke sini aku seperti tidak mempunyai teman ataupun orang yang bisa kujadikan sandaran. Aku merasa sendirian. Aku ingin bercerita menumpahkan segala rasa tapi tidak tahu kepada siapa.
Begitulah kira-kira kondisi insecure yang kualami beberapa bulan ini. Sampai akhirnya aku sadar, ternyata ada yang aku lupakan beberapa waktu ini. Bahwa segala yang aku alami, yang aku rasakan hingga hari ini adalah ketetapan dari-Nya. Bahwa tugasku sebagai hamba yaitu menerima semua ketetapan Rabb-ku. Bahwa aku harusnya sadar, aku telah berusaha sesuai batas mampuku, kalau Allah belum menghendaki apa yang aku mau, artinya memang yang aku mau itu belum aku butuhkan sekarang. Bahwa aku harus menambah sabar untuk menunggu apa, bagaimana, lewat siapa, di mana dan kapan kejutan dari Allah sampai kepadaku. Bahwa aku harus meluaskan syukur tanpa henti atas segala yang sudah, sedang dan belum aku miliki. Ternyata, tanpa kusadari, aku telah menciptakan jarak yang jauh dengan rasa syukur atas nikmat Allah yang lainnya untukku.
Astaghfirullahal'adzim…
Akhirnya aku mulai menata diri kembali. Merencanakan lagi hal-hal baik yang bisa kulakukan selama pandemi. Mulai membuat to-do list juga target-target pencapaian per hari yang sepertinya kebiasaan itu sudah kutinggalkan beberapa bulan ini. Sepertinya, Allah memang sangat sayang padaku. Dia tak mau aku bersedih terlalu lama.
Beberapa hari kemudian aku menerima pesan Whatsapp dari kakak kelasku semasa SMA, bahwa biro psikologi tempatnya bekerja sebelumnya sedang mencari staff baru dan menawarkan langsung kepadaku. Tentunya kabar itu mengejutkan sekaligus membahagiakan untukku, tapi aku berusaha untuk tidak terlalu bahagia, karena belum tentu aku diterima, bukan?
Dua hari berikutnya aku diminta menemui pemilik bironya langsung di tempat beliau bekerja. Setelah bertemu dan mengobrol dengan beliau, rasa optimis meningkat dalam diriku. Satu hari setelah pertemuan, beliau memberi kabar bahwa aku diterima untuk bergabung mengembangkan biro.
Rasa syukur sekaligus malu kepada Allah seakan menghantam tepat di depan mukaku. Bersyukur karena Allah beri rezeki untuk bisa mengaktualisasi diri di tempat kerja yang sesuai dengan minatku. Malu karena baru beberapa hari lalu aku selesai menyalahkan keadaan bahkan menolak ketetapan-Nya untukku dan hari ini Dia memberikan kejutan dengan cara yang tak pernah kuduga sebelumnya. Akhirnya, kejutanku dari Allah telah sampai!
Kejutan-Nya untukku ternyata tidak berhenti di pekerjaan baruku, Allah beri aku sepaket dengan kejutan spesial lainnya. Oleh pemilik biro yang kerap juga dipanggil Ustadz, selain diterima bekerja di biro, aku diberi bonus mengikuti kelompok Halaqoh bergabung bersama muslimah lainnya. Kelompok yang kurindukan setelah beberapa bulan di rumah tidak mengikuti kegiatan semacam ini sama sekali.
Alhamdulillah binikmati tatimushalihat…
Lagi-lagi aku tidak habis pikir dengan cara-Nya yang begitu mengejutkan. Semalam tadabbur ayat di Surah Ali Imran;
“Janganlah kamu bersikap lemah dan janganlah pula kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi derajatnya jika kamu orang-orang yang beriman.” (QS. Ali-Imran [139] : 3)
“Wahai orang beriman! Bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga dan bertakwalah kepada Allah agar kamu beruntung.” (QS. Ali Imran [200] : 3)
Bahwa Allah mengingatkan kita untuk tidak meratapi nasib, tidak lemah juga cengeng. Bahwa sabar tidak ada batasnya. Maka, teruslah meminta untuk dilapangkan hatinya menerima setiap ketetapan-Nya, meluaskan rasa syukur juga memperpanjang sabar.
Semangat bertumbuh, kita! Segala resah yang dirasakan sekarang, pasti akan menemukan titik terang, nanti. Jadikan semuanya sebagai proses bertumbuh yang akan “mekar” pada waktunya. Cukup percaya, semuanya akan baik-baik saja, ada Allah yang bantu kita, kan?
Tetap bertahan, ya! Tambah sabarnya sedikit lagi, kejutan selanjutnya dari Allah akan segera sampai untukku, kamu, kita semua.
Your Sister of Deen,
Kurnia Farwati
Personal Development Enthusiast
@kurniafrwt
______________________
Terima kasih teim #mondayloveletter oleh Sister of Deen! Sharing kalian sungguh jadi reminder baik :')
Bismillahirrahmanirrahim... Lahaula wala quwwata illabillahil aliyyil adzim...

0 komentar:
Posting Komentar