"Dear diriku, terima kasih telah bersedia melangkah jauh bersamaku hingga kita sampai pada fase ini".
Kalimat yang simple itu meluncur dari mulut teman saya, dan dikirimkan via chat kepada saya.
"Maksudmu?"
Tanya saya
"Disini Aku belajar banyak hal untuk jadi dewasa. Aku bersyukur bisa sampai pada fase ini".
Imbuhnya.
"Setahun ini apa saja yang kamu kerjakan, bin?"
Tanyanya balik
Pertanyaan itu, pertanyaan macam apa itu. Terima kasih. Pertanyaan itu sukses membuat saya terdiam, bahkan ingin menangis. Harus kah saya jawab pertanyaan macam itu? Baiklah..
"Aku... Terima kasih telah mengingatkan. Pertanyaanmu sukses memaksaku untuk merefleksi diri, setahunku berlalu begitu saja, setahunku dipenuhi dengan ketidak syukuran, sedih pada-Nya, dan bukannya fokus pada pengembangan diri. Tapi tak apa, bukan? Yang penting sekarang sudah sadar, bukan? Yang penting sekarang sudah bergerak untuk berbenah.. masih ada kesempatan, bukan?"
"Ya bin, masih.. mana pernah Ia menolak untuk membuka pintu bagi orang-orang yang mengetuk? Kepada mereka yang tidak mengetuk saja, Ia dengan murah hati membuka pintu lebar-lebar agar hamba-Nya tak tersesat, agar hamba-Nya punya masa depan yang hebat, apalagi bagi mereka yang menyengaja mengetuk pintu dan memohon petunjuk?"
"Baik ya, Ia"
"Iya bin, Ia Maha Baik"
"Kau tahu, aku juga bersyukur bisa sampai pada fase ini. Fase yang membuatku belajar untuk tak hanya melihat sesuatu dari satu perspektif, tetapi dari perspektif yang banyak. Pada akhirnya, pada fase ini aku tahu bahwa aku bukan hanya sekadar membutuhkan petunjuk-Nya, tapi benar-benar butuh."
"Ya memang, maklum... kita kan hanya manusia,"
Tulisan yang berdasar realita (namun dicampur fiktif)
Palu,
Waktu dzuhur, 29 Juli 2019
Ambinari Rachmi putri


0 komentar:
Posting Komentar