Karena terkadang lidah terlalu kelu tuk sekedar lisankan, biarlah rangkaian kata yang membuat memori tetap menyemburat

Sabtu, 20 Desember 2014

Aku benci HIPOTESA

Aku benci HIPOTESA
Sebencinya aku pada a-k-u atau a.k.u atau AKU
ya, kesimpulannya aku sendiri.

Tidakkah kau lihat betapa pastinya suatu KESIMPULAN?
mutlak-absolut.

Tapi mengapa berani-beraninya (masih saja) kulangkahkan pijakan pertamaku pada 'dugaan'?
Mengapa harus diawali dengan HIPOTESA?

Kubenci diriku yang kerdil. Dengan mudahnya menderma.
Kucuil sedikit hatiku, terpotong kecil dan diam-diam kudermakan.
Pada pengetuk asing (yang karena apa lagi kalau bukan HIPOTESA), kudermakan padanya potongan itu.

SIAL. Hipotesa itu bak meraba jalan.
Iya kalau yang mengetuk benar-benar yang akan tinggal, tapi kalau yang mengetuk itu hanya musafir yang sekedar singgah? Atau pencuri yang hanya bermuslihat merobohkan tembok 'perasaan', lalu lari?

Aku benci HIPOTESA
Mungkin ku harus lebih menyibukkan diri. Lagi.
Ya, hanya itu satu-satunya kunci.
Agar tak terperdaya logika, seolah yang 'hipotesa' terlihat seperti 'kesimpulan'.

Tembok hati ini harus dicor ulang.
Baut-baut pintunya harus dikencangkan lagi.
HARUS. Agar tak mudah goyah pada pengetuk yang baru ditahu.
Kasihan hati ini. Sembarang dicuil dan diderma pada orang yang salah.

Hey, masih 18 tahun 9 bulan bukan, batang usiamu?
Haha.
Konyol.
Terlalu bocah untuk menarik 'kesimpulan', dan menderma dengan benar. Bukankah nyata-nyata yang kau ingin hanya pada pemilik sebenarnya-lah, ia diderma?

Sibukkan saja terus dirimu. Terus kumpulkan teori. Jadi 'Ahli' dengan bekal ilmu yang cukup. Analisa. Baru tarik kesimpulan.
Belum sekaranng waktunya.

Aku benci HIPOTESA.



Ambinari Rachmi Putri
Tarakan, 19-12-2014 (Ba'da magrib, waktu WITA)
Share:

0 komentar:

Posting Komentar

Popular Posts

Unordered List

Text Widget

Pages